Logo

BRIN AUDIENSI DENGAN DISPARBUDPORA BENGKALIS, BAHAS SUAKA MARGA HARIMAU SUMATERA DAN POTENSI PARIWISATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL

Oleh Wahidun
25 Sep 2026 69 views
 BRIN AUDIENSI DENGAN DISPARBUDPORA BENGKALIS, BAHAS SUAKA MARGA HARIMAU SUMATERA DAN POTENSI PARIWISATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL

BENGKALIS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan audiensi dengan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bengkalis dalam rangka berdiskusi dan menghimpun data mengenai persepsi masyarakat dan tokoh adat terhadap keberadaan harimau sumatera.

Audiensi berlangsung pada 25 September 2026 di Ruang Rapat Disparbudpora Kabupaten Bengkalis. Tim BRIN dipimpin oleh Bapak Hafizhuddin bersama tim dan diterima oleh Kepala Bidang Pariwisata Disparbudpora Kabupaten Bengkalis, Alwizar, S.K.M, bersama staf Bidang Pariwisata, serta Kepala Bidang Kebudayaan, Khairani, S.E., M.M, bersama staf Bidang Kebudayaan.

Dalam pertemuan tersebut, Tim BRIN menjelaskan maksud kedatangan untuk memperoleh data dan informasi yang dapat mendukung kajian mengenai bagaimana masyarakat dan tokoh adat memandang keberadaan harimau sumatera, termasuk nilai-nilai sosial dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Hafizhuddin menyampaikan bahwa perspektif masyarakat dan tokoh adat menjadi bagian penting dalam penelitian karena keberadaan satwa liar tidak hanya dapat dilihat dari aspek ekologis, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya, serta pengetahuan lokal masyarakat.

“Kami ingin mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai persepsi masyarakat dan tokoh adat terhadap harimau sumatera. Pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang berkembang di daerah menjadi informasi penting untuk melengkapi kajian yang kami lakukan,” ujar Hafizhuddin.

Menurutnya, pengumpulan data melalui pemerintah daerah juga diharapkan dapat membantu BRIN memperoleh informasi yang lebih kontekstual mengenai kondisi masyarakat di wilayah penelitian.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disparbudpora Kabupaten Bengkalis, Alwizar, S.K.M, menyambut baik audiensi tersebut. Ia menilai kajian mengenai harimau sumatera memiliki keterkaitan dengan pengembangan kepariwisataan, khususnya dalam membangun konsep pariwisata berbasis alam, lingkungan dan kearifan lokal.

“Dari sisi pariwisata, keberadaan satwa dan ekosistem alam merupakan bagian dari potensi yang dapat mendukung daya tarik suatu destinasi. Namun, pengembangannya harus tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, keamanan masyarakat, serta nilai-nilai kearifan lokal. Karena itu, data mengenai persepsi masyarakat dan tokoh adat menjadi penting dalam merancang pariwisata yang berkelanjutan,” jelas Alwizar.

Alwizar menambahkan, pengembangan destinasi wisata berbasis alam tidak semata-mata berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga harus mampu memberikan edukasi mengenai lingkungan dan membangun kesadaran bersama untuk menjaga ekosistem.

“Pariwisata ke depan bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi juga bagaimana wisatawan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang alam serta budaya masyarakat. Jika dikemas dengan baik, nilai-nilai kearifan lokal mengenai satwa dan lingkungan dapat menjadi bagian dari narasi wisata yang edukatif dan menarik,” tambahnya.

Dari sisi kebudayaan, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Kabupaten Bengkalis, Khairani, S.E., M.M, menyampaikan bahwa tokoh adat dan masyarakat memiliki posisi penting dalam memberikan gambaran mengenai hubungan manusia dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dalam konteks kebudayaan, masyarakat memiliki pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman dan interaksi mereka dengan lingkungan. Persepsi terhadap harimau tidak hanya berkaitan dengan keberadaan satwanya, tetapi juga dapat memiliki nilai, cerita, simbol dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Hal-hal seperti ini penting untuk didokumentasikan,” ungkap Khairani.

Menurut Khairani, informasi mengenai nilai budaya tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya apabila dikemas secara tepat, tanpa menghilangkan makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Kearifan lokal merupakan bagian dari identitas daerah. Apabila nilai-nilai tersebut terdokumentasi dengan baik dan dikembangkan secara bijak, tentunya dapat memperkaya materi edukasi dan interpretasi budaya dalam kepariwisataan, terutama pada pengembangan wisata berbasis alam dan budaya,” tuturnya.

Diskusi antara BRIN dan Disparbudpora juga membahas pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia, kelestarian lingkungan dan pengembangan potensi wisata.

Keberadaan harimau sumatera sebagai salah satu satwa endemik Indonesia dapat menjadi bagian dari narasi konservasi dan edukasi dalam pengembangan pariwisata berbasis alam. Dalam konteks tersebut, pemahaman terhadap persepsi masyarakat menjadi penting agar pengembangan kepariwisataan dapat berjalan selaras dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

Audiensi tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran informasi antara lembaga riset dan pemerintah daerah. Data dan informasi dari Disparbudpora diharapkan dapat mendukung kebutuhan kajian BRIN, sementara hasil penelitian nantinya dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi pemerintah daerah dalam melihat potensi hubungan antara konservasi, kebudayaan, masyarakat dan kepariwisataan.

Melalui sinergi tersebut, pengembangan pariwisata di Kabupaten Bengkalis diharapkan tidak hanya bertumpu pada daya tarik destinasi, tetapi juga mampu mengangkat kekayaan alam, pengetahuan lokal dan kearifan masyarakat sebagai bagian dari pengalaman wisata yang edukatif, berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

 

TAGS:

BAGIKAN ARTIKEL INI: